“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Qur’an Surat An-Nisa: 29
Ayat ini biasanya dipahami dalam konteks fisik. Tapi ada cara lain untuk membacanya tentang semua cara halus di mana kita perlahan menghancurkan diri sendiri: dengan suara dalam kepala yang terus merendahkan, dengan standar yang tidak pernah bisa dipenuhi, dengan cara kita memperlakukan diri di momen-momen paling sepi.
Self love, dalam pengertian yang paling jujur, adalah kebalikan dari semua itu.
Bagian 1: Self Love yang Salah Dipahami
Ada versi self love yang dijual di mana-mana dan versi itu, tanpa disadari, justru membebani lebih banyak orang.
Versi itu mengatakan: cintai dirimu sepenuhnya. Kamu sempurna apa adanya. Tidak ada yang perlu diubah. Kamu layak mendapatkan segalanya.
Kalimat-kalimat itu terdengar menyenangkan. Tapi bagi banyak orang, kalimat itu terasa tidak nyata dan ketidakmampuan untuk benar-benar merasakannya hanya menambah satu kegagalan lagi di daftar panjang: bahkan mencintai diri sendiri pun aku tidak bisa.
Self love yang sesungguhnya jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit dari sekadar merasa baik tentang diri sendiri setiap saat.
Ia adalah komitmen untuk tidak meninggalkan dirimu sendiri, bahkan ketika kamu tidak sedang dalam kondisi terbaik. Bahkan ketika kamu gagal. Bahkan ketika kamu membuat kesalahan yang menyakitkan. Bahkan ketika kamu tidak suka dengan apa yang kamu lihat di cermin baik cermin fisik maupun cermin batin.
Bagian 2: Suara yang Paling Keras di Dalam Kepala
Ada eksperimen sederhana yang bisa kamu lakukan sekarang.
Bayangkan seorang teman yang sangat kamu sayangi datang kepadamu dan berkata: “Aku gagal lagi. Aku bodoh sekali. Aku tidak berguna. Kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sederhana ini dengan benar?”
Apa yang akan kamu katakan kepadanya?
Kemungkinan besar kamu akan merespons dengan empati. Kamu akan berkata bahwa ia tidak bodoh, bahwa gagal adalah bagian dari proses, bahwa satu kegagalan tidak mendefinisikan nilainya sebagai manusia.
Sekarang perhatikan: apakah kamu berbicara kepada dirimu sendiri dengan cara yang sama?
Bagi kebanyakan orang, jawabannya adalah tidak. Suara yang berbicara kepada diri sendiri jauh lebih keras, jauh lebih kejam, jauh lebih tidak berampun dibandingkan suara yang akan kita gunakan kepada siapapun yang kita sayangi.
Psikologi menyebut ini self-criticism yang tidak sehat dan penelitian menunjukkan bahwa pola ini, jika dibiarkan, tidak memotivasi perubahan. Ia hanya menguras energi, memperlemah kepercayaan diri, dan menciptakan lingkaran setan: merasa buruk → mengkritik diri → merasa lebih buruk.
Bagian 3: Self Love Bukan Narsisme
Ini adalah salah paham yang perlu diluruskan, terutama dalam konteks budaya dan agama kita.
Dalam tradisi Islam, ada nilai yang sangat dijunjung tentang tawadhu kerendahan hati. Dan self love sering dianggap bertentangan dengan tawadhu seolah-olah mencintai diri sendiri berarti merasa lebih baik dari orang lain, atau tidak lagi butuh kepada Allah.
Tapi ini adalah dua hal yang berbeda.
Narsisme adalah melebih-lebihkan nilai diri sendiri, merasa lebih dari orang lain, tidak mampu berempati. Ini memang bertentangan dengan akhlak yang baik.
Self love yang sehat adalah mengakui bahwa kamu punya nilai sebagai manusia bukan karena prestasimu, bukan karena penampilanmu, bukan karena seberapa berguna kamu bagi orang lain tapi karena Allah menciptakanmu dengan nilai yang inheren.
Merawat dirimu sendiri, menghormati kebutuhanmu, dan berbicara kepada dirimu dengan kelembutan bukan kesombongan. Itu adalah cara menghormati amanah yang Allah titipkan kepadamu yaitu dirimu sendiri.
Bagian 4: Self Love dalam Praktik yang Nyata
Bukan tentang rutinitas perawatan diri yang mahal atau kalimat afirmasi yang diulang di depan cermin. Tapi tentang pilihan-pilihan kecil yang terakumulasi menjadi cara kamu memperlakukan dirimu sendiri.
-
Mengenali kebutuhanmu dan mengizinkan dirimu memilikinya.
Butuh istirahat adalah informasi, bukan kelemahan. Butuh ditemani adalah kebutuhan manusiawi, bukan ketergantungan yang memalukan. Butuh waktu sendiri adalah hak, bukan keanehan. -
Berhenti meminta maaf atas keberadaanmu.
Atas ruang yang kamu tempati. Atas pendapat yang kamu miliki. Atas kebutuhan yang kamu punya. Ini bukan soal menjadi tidak peka tapi soal berhenti selalu menempatkan dirimu sebagai yang paling tidak penting di setiap ruangan. -
Mengizinkan dirimu untuk tidak sempurna tanpa langsung menghukum diri. Ini yang paling sulit. Ketika melakukan kesalahan mengakuinya, memintai maaf jika perlu, belajar dari situ, dan melanjutkan hidup. Tanpa perlu menguliahi diri sendiri selama berhari-hari setelahnya.
-
Memperhatikan bagaimana kamu berbicara kepada dirimu sendiri.
Tidak harus langsung sempurna. Tapi mulai memperhatikan ketika suara itu terlalu keras, terlalu tidak adil, terlalu berbeda dari cara kamu akan berbicara kepada seseorang yang kamu sayangi.
Bagian 5: Hubungan antara Self Love dan Cara Kita Mencintai Orang Lain
Ada kalimat yang sering terdengar klise tapi ternyata didukung penelitian: kamu tidak bisa memberi dari kekosongan.
Seseorang yang tidak punya rasa dasar terhadap nilainya sendiri cenderung mencari validasi itu dari hubungan dan ketika hubungan tidak memenuhinya (karena tidak ada hubungan yang bisa sepenuhnya memenuhi kekosongan dari dalam), muncul kekecewaan, kebencian, dan pola yang merusak.
Sebaliknya, seseorang yang punya fondasi rasa aman dari dalam dirinya sendiri bisa mencintai orang lain dengan lebih bebas karena cintanya tidak didorong oleh rasa takut kehilangan, tapi oleh pilihan yang sadar.
Dalam konteks pernikahan, persahabatan, hubungan orang tua dan anak self love bukan penghalang dari cinta yang tulus. Ia adalah fondasinya.
Bagian 6: Ketika Self Love Terasa Mustahil
Ada kondisi di mana mencintai diri sendiri tidak terasa seperti pilihan yang bisa dibuat begitu saja. Ketika depresi ada, ketika trauma masih segar, ketika kehidupan terasa sangat berat.
Di saat-saat seperti itu, self love mungkin tidak bisa dimulai dari perasaan. Ia harus dimulai dari tindakan kecil seperti makan meskipun tidak nafsu, tidur meskipun tidak mengantuk, meminta bantuan meskipun tidak merasa layak mendapatkannya.
Dan dalam tradisi kita, ada satu tindakan yang sangat sederhana tapi sangat bermakna: membawa dirimu kembali kepada Allah, bahkan ketika kamu merasa paling tidak layak untuk dekat.
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Qur’an Surat Az-Zumar: 53
Ayat ini bukan hanya tentang dosa. Ia tentang semua cara kita telah melampaui batas terhadap diri kita sendiri dengan kekerasan yang kita arahkan ke dalam, dengan standar yang kita gunakan untuk menghancurkan diri, dengan cara kita memperlakukan diri seperti yang tidak layak mendapat kelembutan.
Rahmat Allah lebih luas dari semua itu.
Penutup: Mulai dari Tidak Meninggalkan Diri Sendiri
Self love tidak harus dimulai dari perasaan cinta yang besar dan hangat terhadap diri sendiri. Ia bisa dimulai dari satu keputusan yang jauh lebih sederhana:
Aku tidak akan meninggalkan diriku sendiri hari ini.
Tidak akan membiarkan suara dalam kepalaku menjadi lebih kejam dari yang aku izinkan orang lain berbicara kepadaku. Tidak akan terus-menerus mengorbankan kebutuhanku tanpa mengakui bahwa kebutuhan itu ada. Tidak akan menghukum diriku atas ketidaksempurnaan yang juga dimiliki semua manusia.
Itu sudah cukup untuk hari ini.
Untuk siapapun yang sedang belajar untuk tidak menjadi musuh terbesar bagi dirinya sendiri.